LAGU CINTA YANG SEPI DI DENGAR
عَنْ أِبي هُرَيْرَةَ رَضِي اللّه عَنْهُ قَالَ: قَبَّلَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الحَسَنَ بْنَ عَلىِّ رَضِيَ اللّه عَنْهُمَا
وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِساً. فَقَالَ: » إنَّ لي
عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَداً «. فَنَظَرَ إلَيْهِ
رَسُول اللّه صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: » مَنْ لا يَرْحَمْ لا يُرْحَمْ «
Dari Abu Hurairah, ia
berkata, ”Rasulullah s.a.w pernah mencium Hasan, putra Ali di mana saat itu ada
Aqra’ ibnu Habis at-Tamimi sedang duduk di samping beliau. Dia lalu berkata,
“Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah satupun dari mereka yang aku
cium.” Rasulullah s.a.w memandangnya dan berkata, ’Siapa yang tidak memiliki
sifat kasih sayang, niscaya tidak tidak akan memperoleh rahmat (kasih sayang)
Allah.” (HR. Bukhari, no. 5997 dan Muslim, no. 2318).
Saudaraku,
Masih basah dalam ingatan kita, ketika kita masih duduk di bangku TK dan SD dahulu, dan mungkin masih biasa dinyanyikan anak-anak PAUD, TK dan SD di zaman sekarang, lagu cinta kita biasa mengulang-ulangnya.
“Satu-satu aku sayang ibu. Dua-dua juga sayang ayah. Tiga-tiga sayang adik-kakak. Satu dua tiga sayang semuanya..”.
Masih basah dalam ingatan kita, ketika kita masih duduk di bangku TK dan SD dahulu, dan mungkin masih biasa dinyanyikan anak-anak PAUD, TK dan SD di zaman sekarang, lagu cinta kita biasa mengulang-ulangnya.
“Satu-satu aku sayang ibu. Dua-dua juga sayang ayah. Tiga-tiga sayang adik-kakak. Satu dua tiga sayang semuanya..”.
Masihkah lagu itu dinyanyikan
anak-anak sekarang? Jika pertanyaan itu diajukan ke setiap anak di seluruh
pelosok negeri kita, aku yakin tidak sedikit anak-anak yang tak mampu
menyanyikannya. Bukan karena mereka tak pernah mendengar lagu itu sebelumnya,
atau tak pernah diajarkan oleh guru di taman kanak-kanak atau di SD seperti
yang kita alami dulu. Tapi lebih karena lagu tersebut selama ini hanya akan
membuat batin mereka menjerit, jiwa mereka menangis.
Bisa jadi nyanyian itu hanya
mimpi, yang menciptakan juga sedang bermimpi, apalagi yang menyanyikannya,
pastilah para pemimpi. Lagu itu pantaskah dinyanyikan oleh N, bocah perempuan
berusia 11 tahun, di Jalan Teuku Cik Ditiro, Gang Melati 1, Kelurahan Sumber
Rejo, Keiling Bandar Lampung. (sumber; Tribun Lampung, Rabu, 2 Maret 2016, No.
2411 Tahun VII).
Bertahun-tahun bocah mungil
ini mengalami kekerasan dari orang tuanya; Eko Wuryanto dan Sutriah. Pasangan
itu kerap menyiksa anaknya memakai alat-alat seperti tang, pisau, kursi plastic,
sapu dan lain sebagainya. Cukup banyak bekas luka yang di sekujur tubuh N
akibat penganiayaan yang dialkukan orang tuanya. Antara lain di perut, tangan,
dada, dahi dan kaki.
Tidak hanya itu, gigi bagian
bawah di sebelah kiri pun tanggal karena dicabut paksa oleh ibu kandungnya
dengan menggunakan tang.
Ini hanya sekelumit kisah
kekerasan orang tua terhadap anaknya. Yang jika kita mau membuka media masa dan
elektronik dari lima tahun yang lalu, niscaya kita dapatkan kisah tragis yang
dialami anak dari orang tuanya, tak terhitung jumlahnya. Dengan kadar kekerasan
yang bertingkat-tingkat dan warna yang berbeda.
Saudaraku,
Kisah tragis seperti di atas, hanyalah satu dari deretan panjang kekejian orang tua yang kini akrab di telinga kita. Semua itu rasanya tak terjangkau oleh nalar manusiawi kita. Sekelam itukah perlakuan mereka? Terlebih pada anak-anak yang sudah barang tentu tak berdaya. Tapi itulah kenyataannya. Itulah potret gelap sebuah keluarga di tanah air kita tercinta.
Kisah tragis seperti di atas, hanyalah satu dari deretan panjang kekejian orang tua yang kini akrab di telinga kita. Semua itu rasanya tak terjangkau oleh nalar manusiawi kita. Sekelam itukah perlakuan mereka? Terlebih pada anak-anak yang sudah barang tentu tak berdaya. Tapi itulah kenyataannya. Itulah potret gelap sebuah keluarga di tanah air kita tercinta.
Di tahun 80-an, kita pernah mendengar
kisah memilukan Ari Hanggara. Bahkan karena penganiayaan anak terbilang langka
pada saat itu, kasus Ari pun sempat dibuat filmnya. Jika semua kasus
penganiayaan anak saat ini dianggap luar biasa, entah sudah berapa judul dan
episode film yang harus dibuat. Atau bisa jadi, sutradara dan penulis skenario
pun akan kesulitan untuk lebih dulu menulis kasus yang mana. Mungkin juga
dibutuhkan ribuan anak untuk melakukan testing sebagai pemeran anak-anak malang
itu. Dan bisa jadi film-film itu takkan pernah selesai dibuat. Sebab belum
selesai satu skenario ditulis, sudah ada puluhan kasus lain yang terjadi.
Akankah suatu saat
penganiayaan anak menjadi sesuatu yang biasa di negeri kita? Sehingga anak-anak
tak lagi mengerti kenapa mereka harus dilahirkan jika hanya untuk disakiti.
Mulut-mulut kecil mereka takkan lagi mampu menyanyikan lagu cinta yang selama
ini mereka dengar dan atau diajarkan guru di taman kanak-kanak. Haruskah mereka
bernyanyi, “pok ame-ame.. belalang kupu-kupu.. siang dipukuli.. kalau malam
diomeli…”
Begitu banyak anak-anak yang
tak lagi mendapat kasih sayang selayaknya anak-anak lain. Di manakah mereka
dari pengamalan ajaran agama kita yang suci? Cinta dan kasih sayang adalah hak
mereka, dan kewajiban orang tualah memenuhinya. Mereka butuh belaian, bukan
pukulan. Butuh sentuhan lembut, bukan cubitan melintir atau sulutan rokok.
Butuh kata-kata manis, bukan makian dan bentakan lengkap dengan kata-kata
kasar. Butuh kecupan, bukan pukulan. Butuh arahan, bukan tendangan yang
menyakitkan. Butuh kemplang dan bukan tempelengan.
Saudaraku,
Anak-anak memerlukan seorang ibu, bukan penjahat tak berperasaan yang terus menerus membuat mereka menderita. Anak-anak butuh seorang ayah, bukan preman yang akan membunuhnya. Mereka juga membutuhkan lingkungan dan saudara-saudara yang baik dan penuh kasih, bukan para perampok kebebasan.
Anak-anak memerlukan seorang ibu, bukan penjahat tak berperasaan yang terus menerus membuat mereka menderita. Anak-anak butuh seorang ayah, bukan preman yang akan membunuhnya. Mereka juga membutuhkan lingkungan dan saudara-saudara yang baik dan penuh kasih, bukan para perampok kebebasan.
Telinga mereka yang teramat
lembut itu tercipta untuk mendengar ungkapan sayang, bukan makian kasar. Mata
indahnya semestinya mendapatkan tatapan teduh ayah dan bunda. Kulit halus punya
mereka itu untuk mendapat sentuhan lembut, bukan untuk dilukai. Rambut tipis
terurainya untuk dibelai, tak untuk dijambak. Dan mereka butuh pelukan untuk
menghangatkan tubuh kecilnya, bukan air mendidih atau api menyala-nyala.
Bermimpikah mereka untuk bisa
disisiri rambutnya setiap pagi oleh sang ibu? Salahkah mereka berharap ayah
memangku dan mendongengkan cerita Rasul dan para sahabatnya setiap malam, atau
barangkali hanya sekadar menemani mereka belajar menulis dan menggambar? Atau
bermimpi pun mereka tak boleh? Haruskah mereka menyanyikannya?.
Saudaraku,
Mari kita simak pengalaman nubuwah dan sepenggal kisah Umar bin Khattab dengan calon calon wali kota pada masanya.
Mari kita simak pengalaman nubuwah dan sepenggal kisah Umar bin Khattab dengan calon calon wali kota pada masanya.
Rasulullah s.a.w memberikan
keteladanan bagi orang tua bagaimana cara memperlakukan anak-anak yang lemah
dan memerlukan belaian kasih sayang.
Abu Hurairah r.a meriwayatkan
bahwa suatu ketika Rasulullah s.a.w mencium Hasan bin Ali dan di dekatnya ada
al-Aqra’ bin Habis at-Tamimi sedang duduk. Ia kemudian berkata, “Aku memiliki
sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.”
Rasulullah s.a.w segera memandang kepadanya dan berkata, “Man laa yarham laa
yurham, barangsiapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi.” (HR.
Bukhari, no. 5997 dan Muslim, no. 2318).
Bahkan dalam shalat pun
Rasulullah s.a.w tidak melarang anak-anak dekat dengan beliau. Hal ini kita
dapat dari cerita Abu Qatadah, “Suatu ketika Rasulullah s.a.w mendatangi kami
bersama Umamah binti Abi al-Ash (puteri Zainab, putri Rasulullah s.a.w) beliau
meletakkannya di atas bahunya. Beliau kemudian shalat dan ketika ruku’, beliau
meletakkannya dan saat bangkit dari sujud, beliau mengangkat kembali.” (HR.
Muslim, no. 543).
Peristiwa itu bukan kejadian
satu-satunya yang terekam dalam sejarah. Abdullah bin Syaddad juga meriwayatkan
dari ayahnya bahwa, “Ketika waktu datang shalat Isya, Rasulullah s.a.w datang
sambil membawa Hasan dan Husain. Beliau kemudian maju (sebagai imam) dan
meletakkan cucunya. Beliau kemudian takbir untuk shalat. Ketika sujud, beliau
pun memanjangkan sujudnya. Ayahku berkata, ‘Aku kemudian mengangkat kepalaku
dan melihat anak kecil itu berada di atas punggung Rasulullah s.a.w yang sedang
bersujud. Aku kemudian sujud kembali.’ Setelah selesai shalat, orang-orang pun
berkata, ‘Wahai Rasulullah, saat sedang sujud di antara dua sujudmu tadi,
engkau melakukannya sangat lama, sehingga kami mengira telah terjadi sebuah
peristiwa besar, atau telah turun wahyu kepadamu.’ Beliau kemudian berkata,
‘Semua yang engkau katakan itu tidak terjadi, tapi cucuku sedang
bersenang-senang denganku, dan aku tidak suka menghentikannya sampai dia
menyelesaikan keinginannya.” (HR. Nasa’i, no. 1142).
Kisah inspiratif, datang dari
khalifah rasyidah kedua; Umar bin Khattab r.a. Tersebut dalam sebuah atsar,
pernah seorang lelaki mendatangi Umar bin Khattab seraya mengadukan kedurhakaan
anaknya. Umar kemudian memanggil putra orang tua itu dan menghardiknya atas
kedurhakaannya.
Tidak
lama kemudan anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sang anak
memiliki hak atas orang tuanya?.”
“Betul,” jawab Umar.
“Apakah hak sang anak?”
“Memilihkan calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya al-Qur’an,” jawab Umar.
“Betul,” jawab Umar.
“Apakah hak sang anak?”
“Memilihkan calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya al-Qur’an,” jawab Umar.
“Wahai Amirul Mukminin,
sesungguhnya ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang engkau sebutkan.
Adapun ibuku, ia adalah wanita berkulit hitam bekas hamba sahaya orang Majusi,
ia menamakanku Ju’lan (kumbang), dan tidak mengajariku satu huruf pun dari
al-Qur’an,” kata anak itu.
Umar segera memandang orang
tua itu dan berkata kepadanya, “Engkau datang untuk mengadukan kedurhakaan
anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau
telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”
Bukan
hanya itu saudaraku,
Waki’ bin al-Jarrah dalam kitabnya “al-Zuhd” mengutip sebuah atsar bahwa Umar bin Khattab pernah mencium anaknya di hadapan seorang laki-laki yang sedang di-interview oleh Umar untuk menjadi salah satu Wali Kota di sebuah daerah. Lelaki itu berkata, “Aku mempunyai empat atau lima anak, dan aku tidak pernah mencium satu pun dari anak-anakku.”
Waki’ bin al-Jarrah dalam kitabnya “al-Zuhd” mengutip sebuah atsar bahwa Umar bin Khattab pernah mencium anaknya di hadapan seorang laki-laki yang sedang di-interview oleh Umar untuk menjadi salah satu Wali Kota di sebuah daerah. Lelaki itu berkata, “Aku mempunyai empat atau lima anak, dan aku tidak pernah mencium satu pun dari anak-anakku.”
Umar berkata, “Jika demikian
engkau adalah orang mukmin yang paling kering dari kasih sayang (terhadap
anak), aku tidak akan pernah mengangkat pejabatku, orang yang tidak memiliki
kasih sayang terhadap orang lain.”
Saudaraku,
Andai saja orang tua dan para pejabat dan kita semua mau meneladani kedekatan Rasulullah dan para sahabat dengan anak-anak mereka dan masyarakat, tentulah kisah pilu dan tragis anak-anak yang bersimbah air mata tak akan terdengar lagi di telinga kita. Dan tak pula tersebar berita miring tentang para pemimpin dan pejabat. Karena mereka mengasihi rakyat dan mencintai warganya seperti mereka mengasihi dan mencintai diri mereka sendiri. Semoga suatu saat nanti kita bisa melihatnya. Dan bukan sekadar mimpi. Amien. Wallahu a’lam bishawab.
Andai saja orang tua dan para pejabat dan kita semua mau meneladani kedekatan Rasulullah dan para sahabat dengan anak-anak mereka dan masyarakat, tentulah kisah pilu dan tragis anak-anak yang bersimbah air mata tak akan terdengar lagi di telinga kita. Dan tak pula tersebar berita miring tentang para pemimpin dan pejabat. Karena mereka mengasihi rakyat dan mencintai warganya seperti mereka mengasihi dan mencintai diri mereka sendiri. Semoga suatu saat nanti kita bisa melihatnya. Dan bukan sekadar mimpi. Amien. Wallahu a’lam bishawab.
(Manhajuna/GAA)