Sabtu, 06 Agustus 2016

Lagu cinta yang sepi didengar

LAGU CINTA YANG SEPI DI DENGAR


عَنْ أِبي هُرَيْرَةَ رَضِي اللّه عَنْهُ قَالَ: قَبَّلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الحَسَنَ بْنَ عَلىِّ رَضِيَ اللّه عَنْهُمَا وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِساً. فَقَالَ: » إنَّ لي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَداً «. فَنَظَرَ إلَيْهِ رَسُول اللّه صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: » مَنْ لا يَرْحَمْ لا يُرْحَمْ «
Dari Abu Hurairah, ia berkata, ”Rasulullah s.a.w pernah mencium Hasan, putra Ali di mana saat itu ada Aqra’ ibnu Habis at-Tamimi sedang duduk di samping beliau. Dia lalu berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah satupun dari mereka yang aku cium.” Rasulullah s.a.w memandangnya dan berkata, ’Siapa yang tidak memiliki sifat kasih sayang, niscaya tidak tidak akan memperoleh rahmat (kasih sayang) Allah.” (HR. Bukhari, no. 5997 dan Muslim, no. 2318).
Saudaraku,
Masih basah dalam ingatan kita, ketika kita masih duduk di bangku TK dan SD dahulu, dan mungkin masih biasa dinyanyikan anak-anak PAUD, TK dan SD di zaman sekarang, lagu cinta kita biasa mengulang-ulangnya.
“Satu-satu aku sayang ibu. Dua-dua juga sayang ayah. Tiga-tiga sayang adik-kakak. Satu dua tiga sayang semuanya..”.
Masihkah lagu itu dinyanyikan anak-anak sekarang? Jika pertanyaan itu diajukan ke setiap anak di seluruh pelosok negeri kita, aku yakin tidak sedikit anak-anak yang tak mampu menyanyikannya. Bukan karena mereka tak pernah mendengar lagu itu sebelumnya, atau tak pernah diajarkan oleh guru di taman kanak-kanak atau di SD seperti yang kita alami dulu. Tapi lebih karena lagu tersebut selama ini hanya akan membuat batin mereka menjerit, jiwa mereka menangis.
Bisa jadi nyanyian itu hanya mimpi, yang menciptakan juga sedang bermimpi, apalagi yang menyanyikannya, pastilah para pemimpi. Lagu itu pantaskah dinyanyikan oleh N, bocah perempuan berusia 11 tahun, di Jalan Teuku Cik Ditiro, Gang Melati 1, Kelurahan Sumber Rejo, Keiling Bandar Lampung. (sumber; Tribun Lampung, Rabu, 2 Maret 2016, No. 2411 Tahun VII).
Bertahun-tahun bocah mungil ini mengalami kekerasan dari orang tuanya; Eko Wuryanto dan Sutriah. Pasangan itu kerap menyiksa anaknya memakai alat-alat seperti tang, pisau, kursi plastic, sapu dan lain sebagainya. Cukup banyak bekas luka yang di sekujur tubuh N akibat penganiayaan yang dialkukan orang tuanya. Antara lain di perut, tangan, dada, dahi dan kaki.
Tidak hanya itu, gigi bagian bawah di sebelah kiri pun tanggal karena dicabut paksa oleh ibu kandungnya dengan menggunakan tang.
Ini hanya sekelumit kisah kekerasan orang tua terhadap anaknya. Yang jika kita mau membuka media masa dan elektronik dari lima tahun yang lalu, niscaya kita dapatkan kisah tragis yang dialami anak dari orang tuanya, tak terhitung jumlahnya. Dengan kadar kekerasan yang bertingkat-tingkat dan warna yang berbeda.
Saudaraku,
Kisah tragis seperti di atas, hanyalah satu dari deretan panjang kekejian orang tua yang kini akrab di telinga kita. Semua itu rasanya tak terjangkau oleh nalar manusiawi kita. Sekelam itukah perlakuan mereka? Terlebih pada anak-anak yang sudah barang tentu tak berdaya. Tapi itulah kenyataannya. Itulah potret gelap sebuah keluarga di tanah air kita tercinta.
Di tahun 80-an, kita pernah mendengar kisah memilukan Ari Hanggara. Bahkan karena penganiayaan anak terbilang langka pada saat itu, kasus Ari pun sempat dibuat filmnya. Jika semua kasus penganiayaan anak saat ini dianggap luar biasa, entah sudah berapa judul dan episode film yang harus dibuat. Atau bisa jadi, sutradara dan penulis skenario pun akan kesulitan untuk lebih dulu menulis kasus yang mana. Mungkin juga dibutuhkan ribuan anak untuk melakukan testing sebagai pemeran anak-anak malang itu. Dan bisa jadi film-film itu takkan pernah selesai dibuat. Sebab belum selesai satu skenario ditulis, sudah ada puluhan kasus lain yang terjadi.
Akankah suatu saat penganiayaan anak menjadi sesuatu yang biasa di negeri kita? Sehingga anak-anak tak lagi mengerti kenapa mereka harus dilahirkan jika hanya untuk disakiti. Mulut-mulut kecil mereka takkan lagi mampu menyanyikan lagu cinta yang selama ini mereka dengar dan atau diajarkan guru di taman kanak-kanak. Haruskah mereka bernyanyi, “pok ame-ame.. belalang kupu-kupu.. siang dipukuli.. kalau malam diomeli…”
Begitu banyak anak-anak yang tak lagi mendapat kasih sayang selayaknya anak-anak lain. Di manakah mereka dari pengamalan ajaran agama kita yang suci? Cinta dan kasih sayang adalah hak mereka, dan kewajiban orang tualah memenuhinya. Mereka butuh belaian, bukan pukulan. Butuh sentuhan lembut, bukan cubitan melintir atau sulutan rokok. Butuh kata-kata manis, bukan makian dan bentakan lengkap dengan kata-kata kasar. Butuh kecupan, bukan pukulan. Butuh arahan, bukan tendangan yang menyakitkan. Butuh kemplang dan bukan tempelengan.
Saudaraku,
Anak-anak memerlukan seorang ibu, bukan penjahat tak berperasaan yang terus menerus membuat mereka menderita. Anak-anak butuh seorang ayah, bukan preman yang akan membunuhnya. Mereka juga membutuhkan lingkungan dan saudara-saudara yang baik dan penuh kasih, bukan para perampok kebebasan.
Telinga mereka yang teramat lembut itu tercipta untuk mendengar ungkapan sayang, bukan makian kasar. Mata indahnya semestinya mendapatkan tatapan teduh ayah dan bunda. Kulit halus punya mereka itu untuk mendapat sentuhan lembut, bukan untuk dilukai. Rambut tipis terurainya untuk dibelai, tak untuk dijambak. Dan mereka butuh pelukan untuk menghangatkan tubuh kecilnya, bukan air mendidih atau api menyala-nyala.
Bermimpikah mereka untuk bisa disisiri rambutnya setiap pagi oleh sang ibu? Salahkah mereka berharap ayah memangku dan mendongengkan cerita Rasul dan para sahabatnya setiap malam, atau barangkali hanya sekadar menemani mereka belajar menulis dan menggambar? Atau bermimpi pun mereka tak boleh? Haruskah mereka menyanyikannya?.
Saudaraku,
Mari kita simak pengalaman nubuwah dan sepenggal kisah Umar bin Khattab dengan calon calon wali kota pada masanya.
Rasulullah s.a.w memberikan keteladanan bagi orang tua bagaimana cara memperlakukan anak-anak yang lemah dan memerlukan belaian kasih sayang.
Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah s.a.w mencium Hasan bin Ali dan di dekatnya ada al-Aqra’ bin Habis at-Tamimi sedang duduk. Ia kemudian berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah s.a.w segera memandang kepadanya dan berkata, “Man laa yarham laa yurham, barangsiapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi.” (HR. Bukhari, no. 5997 dan Muslim, no. 2318).
Bahkan dalam shalat pun Rasulullah s.a.w tidak melarang anak-anak dekat dengan beliau. Hal ini kita dapat dari cerita Abu Qatadah, “Suatu ketika Rasulullah s.a.w mendatangi kami bersama Umamah binti Abi al-Ash (puteri Zainab, putri Rasulullah s.a.w) beliau meletakkannya di atas bahunya. Beliau kemudian shalat dan ketika ruku’, beliau meletakkannya dan saat bangkit dari sujud, beliau mengangkat kembali.” (HR. Muslim, no. 543).
Peristiwa itu bukan kejadian satu-satunya yang terekam dalam sejarah. Abdullah bin Syaddad juga meriwayatkan dari ayahnya bahwa, “Ketika waktu datang shalat Isya, Rasulullah s.a.w datang sambil membawa Hasan dan Husain. Beliau kemudian maju (sebagai imam) dan meletakkan cucunya. Beliau kemudian takbir untuk shalat. Ketika sujud, beliau pun memanjangkan sujudnya. Ayahku berkata, ‘Aku kemudian mengangkat kepalaku dan melihat anak kecil itu berada di atas punggung Rasulullah s.a.w yang sedang bersujud. Aku kemudian sujud kembali.’ Setelah selesai shalat, orang-orang pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, saat sedang sujud di antara dua sujudmu tadi, engkau melakukannya sangat lama, sehingga kami mengira telah terjadi sebuah peristiwa besar, atau telah turun wahyu kepadamu.’ Beliau kemudian berkata, ‘Semua yang engkau katakan itu tidak terjadi, tapi cucuku sedang bersenang-senang denganku, dan aku tidak suka menghentikannya sampai dia menyelesaikan keinginannya.” (HR. Nasa’i, no. 1142).
Kisah inspiratif, datang dari khalifah rasyidah kedua; Umar bin Khattab r.a. Tersebut dalam sebuah atsar, pernah seorang lelaki mendatangi Umar bin Khattab seraya mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar kemudian memanggil putra orang tua itu dan menghardiknya atas kedurhakaannya.
Tidak lama kemudan anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sang anak memiliki hak atas orang tuanya?.”
“Betul,” jawab Umar.
“Apakah hak sang anak?”
“Memilihkan calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya al-Qur’an,” jawab Umar.
“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang engkau sebutkan. Adapun ibuku, ia adalah wanita berkulit hitam bekas hamba sahaya orang Majusi, ia menamakanku Ju’lan (kumbang), dan tidak mengajariku satu huruf pun dari al-Qur’an,” kata anak itu.
Umar segera memandang orang tua itu dan berkata kepadanya, “Engkau datang untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”
Bukan hanya itu saudaraku,
Waki’ bin al-Jarrah dalam kitabnya “al-Zuhd” mengutip sebuah atsar bahwa Umar bin Khattab pernah mencium anaknya di hadapan seorang laki-laki yang sedang di-interview oleh Umar untuk menjadi salah satu Wali Kota di sebuah daerah. Lelaki itu berkata, “Aku mempunyai empat atau lima anak, dan aku tidak pernah mencium satu pun dari anak-anakku.”
Umar berkata, “Jika demikian engkau adalah orang mukmin yang paling kering dari kasih sayang (terhadap anak), aku tidak akan pernah mengangkat pejabatku, orang yang tidak memiliki kasih sayang terhadap orang lain.”
Saudaraku,
Andai saja orang tua dan para pejabat dan kita semua mau meneladani kedekatan Rasulullah dan para sahabat dengan anak-anak mereka dan masyarakat, tentulah kisah pilu dan tragis anak-anak yang bersimbah air mata tak akan terdengar lagi di telinga kita. Dan tak pula tersebar berita miring tentang para pemimpin dan pejabat. Karena mereka mengasihi rakyat dan mencintai warganya seperti mereka mengasihi dan mencintai diri mereka sendiri. Semoga suatu saat nanti kita bisa melihatnya. Dan bukan sekadar mimpi. Amien. Wallahu a’lam bishawab.
(Manhajuna/GAA)


Minggu, 08 Mei 2016

Seekor Kucing dan Anak-anak Syiria

Ini tentang kepedulian, yang menjadi parameter masih beningnya hati dan sanubari kita. Pun ia adalah tolok ukur, sedalam apa iman dan ukhuwah tertancap di dada.
Suatu hari, sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin ‘Umar RA, Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Ada seorang perempuan diadzab lantaran seekor kucing”.
Aneh, bagaimana bisa ada seorang Muslimah akan diadzab di neraka, disebabkan oleh seekor kucing sahaja? Apa sebabnya? Dalam kelanjutan hadits riwayat Imam Bukhori dan Muslim tersebut, ada jawabannya.
“Perempuan itu mengurungnya sampai mati. Maka ia masuk neraka karenanya. Ia tidak memberinya makan dan minum. Ia juga tidak melepaskannya agar bisa makan dari serangga tanah”, lanjut Rasulullah.
Mari sadari kembali, hari ini yang mati kelaparan bukan hanya seekor kucing. Ratusan bahkan ribuan anak-anak Muslimin di Syiria sedang terancam meregang nyawa. Mereka terkurung oleh dentum bom dan peluru rezim Syi’ah Nushairiyah.
Jika sore ini putra-putri kita bermain penuh kegembiraan, kenyang dan berkelimpahan, bahkan tanpa rasa dosa kita mubazirkan, tidak demikian dengan mereka. Bocah-bocah polos tak berdosa itu sedang merintih kelaparan, mencoba mengais di jalanan, dan yang mereka dapat hanya rerumputan.
Memang, bukan kita yang menjadi penyebab terjadinya bencana kemanusiaan itu. Bukan kita. Namun, jika lisan kita terus membisu, raga tak tergerak membantu, hingga mereka semua terbujur kaku, bukan kah kita sama sadisnya dengan perempuan teradzab yang dikisahkan Rasulullah dahulu?
Sumber gambar: aljazeera.com

Jumat, 06 Mei 2016

Inspirasi untuk terus belajar.......
Kondisi apapun yang kita alami apakah status dan derajat sosial yang rendah ataukah kemiskinan janganlah menjadi penghalang belajar. Sedikitnya bekal tidak menghalangi perjalanan. Itu pula yang terjadi pada Sufyan Ats-Tsaury (ulama generasi tabi’ tabi’in) rahimahullah. Ia menjadi tokoh bangsa Arab. Seorang fakih dan ahli hadits. Digelari dengan amirul muknin fil hadits (pemimpin orang-orang yang beriman dalam masalah hadits) tentu menggambarkan betapa tinggi kedudukannya.
Sufyan berkisah, “Saat aku mulai belajar, aku mengadu (kepada Allah), ‘Ya Rabb, aku harus memiliki penghasilan. Sementara ilmu itu pergi dan menghilang. Apakah aku bekerja mencari penghasilan saja? Aku memohon kepada Allah kecukupan”.
Sufyan Ats-Taury adalah seorang yang miskin dan belajar butuh modal. Fokus belajar, membuatnya tidak punya harta untuk belajar. Tapi jika belajar sambil bekerja, ilmu yang didapatkan hanya setengah-setengah, tidak optimal. Kemudian Allah memberikan jalan keluar dan mengabulkan doanya. Doa tulus untuk mempelajari agama-Nya.
Ibunya berjanji menanggung keperluannya belajar. “Wahai anakku, belajarlah! Aku yang akan mencukupkanmu dari hasil usaha tenunanku ini”, kata ibunya.[1]
Dengan usaha menenun, ibunya membelikan buku dan mencukupi kebutuhannya dalam belajar. Tidak hanya mendanai Sufyan, ibunya juga selalu memberi semangat dan menasihatinya agar terus giat memperoleh ilmu.
Ibunya mengatakan, “Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, perhatikan… apakah ada pada dirimu perasaan semakin takut (kepada Allah), semakin lembut, dan semakin tenang. Jika engkau tidak merasakannya, ketahuilah apa yang kau pelajari memudharatkanmu. Tidak bermanfaat untukmu.[2]
Nasihat ibu Sufyan juga sangat layak kita jadikan renungan. Introspeksi diri yang mungkin jarang kita lakukan. Sudahkah ibadah kita makin giat, akhlak semakin baik, dan rasa takut serta tawakal kepada Allah SWT. kian kuat, setelah kita belajar?
Ibu Sufyan menjadikan 10 huruf, hanya 10 huruf, untuk introspeksi sejauh mana pengaruh ilmu untuk dirinya.
Dengan lantaran ibunya, Sufyan Ats-Tsaury menjadi Sufyan Ats-Tsaury yang kita tahu. Seorang pemimpin dalam ilmu dan imam dalam agama.

Syamsuriadi




[1] Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya ( Cet. 6),h.370.
[2] Ibnu Jauzi, Sifatu Safwah (Cet.3 ),h.189.