Minggu, 08 Mei 2016

Seekor Kucing dan Anak-anak Syiria

Ini tentang kepedulian, yang menjadi parameter masih beningnya hati dan sanubari kita. Pun ia adalah tolok ukur, sedalam apa iman dan ukhuwah tertancap di dada.
Suatu hari, sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin ‘Umar RA, Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Ada seorang perempuan diadzab lantaran seekor kucing”.
Aneh, bagaimana bisa ada seorang Muslimah akan diadzab di neraka, disebabkan oleh seekor kucing sahaja? Apa sebabnya? Dalam kelanjutan hadits riwayat Imam Bukhori dan Muslim tersebut, ada jawabannya.
“Perempuan itu mengurungnya sampai mati. Maka ia masuk neraka karenanya. Ia tidak memberinya makan dan minum. Ia juga tidak melepaskannya agar bisa makan dari serangga tanah”, lanjut Rasulullah.
Mari sadari kembali, hari ini yang mati kelaparan bukan hanya seekor kucing. Ratusan bahkan ribuan anak-anak Muslimin di Syiria sedang terancam meregang nyawa. Mereka terkurung oleh dentum bom dan peluru rezim Syi’ah Nushairiyah.
Jika sore ini putra-putri kita bermain penuh kegembiraan, kenyang dan berkelimpahan, bahkan tanpa rasa dosa kita mubazirkan, tidak demikian dengan mereka. Bocah-bocah polos tak berdosa itu sedang merintih kelaparan, mencoba mengais di jalanan, dan yang mereka dapat hanya rerumputan.
Memang, bukan kita yang menjadi penyebab terjadinya bencana kemanusiaan itu. Bukan kita. Namun, jika lisan kita terus membisu, raga tak tergerak membantu, hingga mereka semua terbujur kaku, bukan kah kita sama sadisnya dengan perempuan teradzab yang dikisahkan Rasulullah dahulu?
Sumber gambar: aljazeera.com

Jumat, 06 Mei 2016

Inspirasi untuk terus belajar.......
Kondisi apapun yang kita alami apakah status dan derajat sosial yang rendah ataukah kemiskinan janganlah menjadi penghalang belajar. Sedikitnya bekal tidak menghalangi perjalanan. Itu pula yang terjadi pada Sufyan Ats-Tsaury (ulama generasi tabi’ tabi’in) rahimahullah. Ia menjadi tokoh bangsa Arab. Seorang fakih dan ahli hadits. Digelari dengan amirul muknin fil hadits (pemimpin orang-orang yang beriman dalam masalah hadits) tentu menggambarkan betapa tinggi kedudukannya.
Sufyan berkisah, “Saat aku mulai belajar, aku mengadu (kepada Allah), ‘Ya Rabb, aku harus memiliki penghasilan. Sementara ilmu itu pergi dan menghilang. Apakah aku bekerja mencari penghasilan saja? Aku memohon kepada Allah kecukupan”.
Sufyan Ats-Taury adalah seorang yang miskin dan belajar butuh modal. Fokus belajar, membuatnya tidak punya harta untuk belajar. Tapi jika belajar sambil bekerja, ilmu yang didapatkan hanya setengah-setengah, tidak optimal. Kemudian Allah memberikan jalan keluar dan mengabulkan doanya. Doa tulus untuk mempelajari agama-Nya.
Ibunya berjanji menanggung keperluannya belajar. “Wahai anakku, belajarlah! Aku yang akan mencukupkanmu dari hasil usaha tenunanku ini”, kata ibunya.[1]
Dengan usaha menenun, ibunya membelikan buku dan mencukupi kebutuhannya dalam belajar. Tidak hanya mendanai Sufyan, ibunya juga selalu memberi semangat dan menasihatinya agar terus giat memperoleh ilmu.
Ibunya mengatakan, “Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, perhatikan… apakah ada pada dirimu perasaan semakin takut (kepada Allah), semakin lembut, dan semakin tenang. Jika engkau tidak merasakannya, ketahuilah apa yang kau pelajari memudharatkanmu. Tidak bermanfaat untukmu.[2]
Nasihat ibu Sufyan juga sangat layak kita jadikan renungan. Introspeksi diri yang mungkin jarang kita lakukan. Sudahkah ibadah kita makin giat, akhlak semakin baik, dan rasa takut serta tawakal kepada Allah SWT. kian kuat, setelah kita belajar?
Ibu Sufyan menjadikan 10 huruf, hanya 10 huruf, untuk introspeksi sejauh mana pengaruh ilmu untuk dirinya.
Dengan lantaran ibunya, Sufyan Ats-Tsaury menjadi Sufyan Ats-Tsaury yang kita tahu. Seorang pemimpin dalam ilmu dan imam dalam agama.

Syamsuriadi




[1] Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya ( Cet. 6),h.370.
[2] Ibnu Jauzi, Sifatu Safwah (Cet.3 ),h.189.